Konflik Lahan dan Krisis Pakan, Peternak Sapi Bolang Indramayu Kian Tertekan

 

Indramayu – Peternak sapi dan kambing di Blok Bolang, Desa Jatisura, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, mengeluhkan krisis pakan ternak yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut membuat para peternak semakin kewalahan, terutama memasuki awal tahun 2026.

Para peternak mendesak Pemerintah Kabupaten Indramayu melalui Dinas Peternakan agar segera turun tangan dan mencari solusi atas persoalan tersebut. Keterbatasan pakan ternak kini semakin parah lantaran tidak adanya lagi lahan penggembalaan.

“Dulu ada tanah pangonan, sekarang sudah tidak ada. Kami susah menggembalakan sapi,” ujar salah satu peternak sapi Blok Bolang kepada wartawan, Selasa (13/1/2026).

Padahal, Kelompok Ternak Kandang Bolang selama ini dikenal sebagai salah satu pemasok daging sapi dan kambing terbesar di Kabupaten Indramayu. Hasil ternak mereka tidak hanya dipasarkan ke pasar tradisional, tetapi juga ke pasar modern hingga pusat perbelanjaan, bahkan ke luar daerah.

Namun sejak awal tahun ini, para peternak mengaku semakin kesulitan mendapatkan pakan. Situasi tersebut diperburuk dengan munculnya konflik lahan kemitraan. Tercatat sebanyak 17 peternak sapi harus berhadapan dengan petani kemitraan pabrik gula. Dalam konflik tersebut, lahan tebu yang diduga rusak mencapai 41 hektare, tersebar di Desa Jambak seluas 20 hektare dan Desa Amis seluas 21 hektare.

Akibatnya, para peternak diminta mengganti kerugian sebesar Rp 10 juta per hektare.

“Kami diminta mengganti rugi atas kerusakan yang kami sendiri tidak tahu kerusakannya seperti apa,” kata salah satu peternak sapi.

Persoalan ini sempat dimediasi di kantor kecamatan. Pada 5 Januari 2026, Camat Cikedung mengundang para pemilik sapi untuk melakukan mediasi di Kantor Kecamatan Cikedung.

“Kami siap mengganti, tapi harus diverifikasi dulu kerusakannya. Jangan sampai memberatkan kami sebagai peternak,” ungkapnya.

Selain itu, data pada saat mediasi di kantor kecamatan juga dinilai membingungkan. Pasalnya, hanya tercatat 17 pemilik sapi yang diklaim merusak lahan tebu, sementara jumlah peternak sapi di Blok Bolang mencapai sekitar 65 orang dengan total hampir 2.000 ekor sapi.

Para peternak mengakui selama ini sapi-sapi mereka digembalakan di kawasan perkebunan tebu atau areal Hak Guna Usaha (HGU). Namun kini akses tersebut semakin terbatas, sehingga memicu konflik berulang.

“Harapan kami ada tanah pangonan lagi. Kalau tidak, konflik akan terus terjadi dan kami selalu dirugikan,” tegasnya.

Ia juga menyayangkan hasil penelitian dari sejumlah perguruan tinggi yang pernah dilakukan di wilayah tersebut. Menurutnya, beberapa universitas telah melakukan penelitian selama sekitar enam bulan dan kerap menanyakan keluhan peternak, namun hingga kini tidak ada tindak lanjut yang dirasakan.

“Banyak universitas datang ke sini. Setelah penelitian enam bulan lalu pergi begitu saja. Kami tidak merasakan dampaknya,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *