DENPASAR, BUSERJATIM.COM GROUP Malam penuh kehangatan dan kekeluargaan tersaji pada Jumat, 13 Februari 2026, dalam acara temu kangen dan silaturahmi antara Sekretaris Daerah Sumba Barat, Yeremia Ndapadoda, bersama Keluarga Besar IKTR Bali. Kegiatan yang berlangsung di Meeting Room Amaris Hotel ini menjadi momentum penting untuk mempererat tali persaudaraan warga diaspora Sumba Barat di Pulau Dewata.
Kehadiran Bapak Sekda tepat pukul 19.30 WITA disambut hangat dengan pekik khas adat Sumba Barat, menciptakan suasana haru sekaligus bangga. Acara dibuka secara resmi oleh Ketua IKTR Bali, Yosua Umbu Kaleka, yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga solidaritas dan nama baik Sumba Barat di tanah rantau.
Sebelum Sekda menyampaikan arahan, acara diawali dengan doa dan penyampaian Firman Tuhan oleh seorang pendeta yang menyejukkan hati, menegaskan bahwa kebersamaan ini bukan sekadar pertemuan formal, tetapi perjumpaan batin antara seorang pemimpin dan warganya.
IKTR (Ikatan Keluarga Tanarighu) sendiri merupakan wadah diaspora masyarakat Sumba Barat yang berdomisili di Bali, dengan susunan pengurus:
- Ketua: Yosua Umbu Kaleka
- Wakil: Andy Lende
- Bendahara: Maria Wini Malipa
- Sekretaris: Rofin Rowa
Hadir dalam kegiatan tersebut seluruh anggota IKTR Bali, mulai dari mahasiswa/i, para pekerja, hingga para senior yang telah puluhan tahun berkiprah sebagai pengusaha maupun karyawan di Bali. Kebersamaan lintas generasi ini memperlihatkan kekuatan solidaritas warga Sumba Barat yang tetap menjaga akar budaya di tengah kehidupan perantauan.
Dalam arahannya, Bapak Sekda menyampaikan pesan yang tegas namun penuh kasih. Ia menyinggung isu keributan yang sempat viral melibatkan oknum anak-anak Sumba Barat di Bali. Dengan nada kebapakan, ia menegaskan pentingnya menjunjung tinggi adat istiadat masyarakat Bali.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung tinggi,” tegasnya.
Beliau mengingatkan bahwa masyarakat Bali sangat menjunjung tinggi adat dan budaya. Karena itu, warga Sumba Barat yang merantau harus mampu beradaptasi, menghormati nilai-nilai setempat, serta menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat Bali agar tidak terjadi gesekan yang merugikan diri sendiri maupun nama baik daerah asal.
Selain itu, Sekda juga menekankan pentingnya kesiapan mental dan rohani sebelum merantau. Merantau bukan sekadar mencari pekerjaan, tetapi membangun masa depan dan membawa kebanggaan bagi orang tua serta tanah kelahiran.
Dalam bidang pendidikan, Pemerintah Daerah Sumba Barat disebut siap mendukung mahasiswa/i, dengan koordinasi melalui Ketua IKTR. Hal ini menjadi angin segar bagi generasi muda yang sedang menempuh pendidikan di Bali.
Tak hanya itu, beliau juga mengingatkan pentingnya koordinasi organisasi dalam setiap peristiwa penting, seperti sakit atau kematian anggota, agar segala proses dapat ditangani dengan baik, termasuk pemulangan jenazah ke kampung halaman bila diperlukan.
Sekda menegaskan bahwa situasi saat ini sudah mulai kondusif dan hubungan dengan masyarakat Bali harus terus dijaga. Ia juga menyampaikan telah berkoordinasi dengan pemerintah setempat agar warga Sumba Barat dapat bekerja dan belajar dengan aman serta sukses.
Pesannya jelas dan lugas:
“Jangan sampai merantau tanpa membawa apa-apa, lalu pulang dengan tangan hampa.”
Sesi tanya jawab berlangsung sangat hidup. Antusiasme peserta begitu tinggi hingga moderator harus membatasi setiap orang hanya satu pertanyaan. Semua pertanyaan dijawab langsung oleh Sekda, mulai dari persoalan pendidikan, pekerjaan, hingga harapan untuk kemajuan bersama. Suasana terasa seperti anak-anak yang berkeluh kesah kepada seorang ayah—penuh kejujuran, kedekatan, dan harapan.
Acara berakhir sekitar pukul 22.00 WITA dengan doa penutup, memohon berkat Tuhan atas segala hal yang telah didiskusikan. Malam itu bukan sekadar silaturahmi, melainkan penguatan komitmen moral dan sosial warga Sumba Barat di Bali.
Di bawah kepemimpinan Yosua Umbu Kaleka dan jajaran pengurus, IKTR Bali semakin menunjukkan kekompakan dan soliditasnya. Warga Sumba Barat di Bali tidak hanya berjuang untuk sukses secara pribadi, tetapi juga berkomitmen menjaga keamanan, kenyamanan, dan keharmonisan Pulau Bali sebagai rumah kedua mereka.
Temu kangen ini menjadi bukti bahwa jarak tidak pernah memutus akar. Di tanah rantau, semangat persaudaraan tetap hidup—menyatukan tekad untuk sukses, menjaga nama baik daerah, dan menjadi bagian yang harmonis dari masyarakat Bali.






